aku akan bahagia karena aku adalah Sang Penyair. Seorang penyair bersandiwara dengan fitrahnya. Ia akan merasakan kenikmatan dengan memakai pakaian yang bukan jubahnya, menampakkan perasaa jiwa yang bukan suara hatinya.
Ia berperan sebagai orang gila, padahal dia orang yang cerdas. Berperan sebagai PEMBERANI, padahal Ia seorang PENGECUT….!!!!!. berperan BAHAGIA, padahal Ia ………..MENDERITA…!!!!!!!!. Ia juga bisa berperan sebagai PECINTA, yang menekan getaran cinta di HATI untuk kebahagiaan ORANG LAIN….
Dia akan mendengar suara KALBUKU, yang terucap dari MULUTMU, merasakan JIWA dan RUHKU dari TUBUHMU. Meminum perasaan sukmaku dari gelasmu, menyanyikan irama laguku tapi dengan kenyaringan suaramu……
Lantas apakah benar jiwa seorang penyair seperti lilin…????
Rela hangus terbakar dan sirna untuk menghindarkan dunia dari kegelapan, menekan getaran cinta di hati hanya untuk kebahagiaan orang lain…????
Benarkah sang penyair memiliki kelembutan jiwa, bisa menaggalkan selubung kemanusiaannya, dan terbang menjadi SUPER HUMAN, berjiwa dewa, berhati malaikat, dan bersedia menyerahkan apa yang ia miliki untuk musuh sekalipun….?????
Mampu menekan dan menekan segala ambisi, kecuali ambisi untuk membahagiakan orang lain….??????????????
Jika ada manusia seperti itu, kita perlu berguru mengenai perasaan cinta kasih yang saat ini sudah menjadi barang yang langka di muka bumi…!!!!!!!!!!!
Atau mungkin perasaan sang penyair, sebenarnya dimiliki oleh semua orang yang sedang dibelai desiran lembut angin cinta…???
Sehingga dengan cinta yang kerap kita sebut “ mantion of God”, manusia memiliki kepekaan jiwa, dan mengangkat dimensi kemanusiaan sebaik baiknya bentuk insan kamil.
Ikut menangis jika melihat penderitaan orang lain, hanyut dalam ratapan kesedihan orang yang merana, marah bersama kepedihan kaum tertindas, bangkit mengangkat kesaksian bersama kaum mustadh’afin, serta tidak ikut menjarah, memperkosa, merampas harta, kekayaan dan kebahagiaan orang lain..
Manusi yang dalam hatinya ada satu partikel cinta, mampu menghadirkan kesejukan, menawarkan kebahagiaan, memberikan penghargaan kepada manusia lain, tanpa harus memandang perbedaan suku, agama, ras dan budaya.
Jika memang cinta bisa menghadirkan jiwa-jiwa yang tercerahkan, menjadikan manusia seperti matahari yang member sinar kepada siapapun, maka kita perlu mencari “ cinta ” yang nyaris punah.
Atau mungkin,,,,,,,,,,,
Seorang penyair memang diberi anugrah oleh Tuhan, untuk mengurai hakekat cinta, meninggalkan jejak cinta agar dapat menjadi pelajaran, menggambarkan ‘sabda Tuhan’ dalam hati agar manusia bercermin, sesekali menghapus daki-daki dengan ‘PEMBERSIH’ moral, dan terkadang memakai ‘BEDAK’ etika dan ‘FARFUM’ tauladan. Sehingga manusia dapat berbenah diri dan selalu tampil menyenagkan bagi manusia lain…???
Jika memang demikian, mengapa Tuhan tidak member anugrah pada bangsa ini seorang penyair yag dapat membawa kesejukan, memadamkan bara api dendam dan ambisi tanpa batas…??????
Atau mungkin keindahan dunia dan kebaikan manusia hanya ada di syair para penyair, diangan-angan kaum pecinta, goresan kuas para pelukis, disuara merdu bak buluh perindu para penyanyi, dikepusingan kaum filosof, dalam rumus-rumus memabukkan kaum cerdik pandai…????
Sebab cinta, keindahan dunia, kebaikan manusia tidak pernah hadir dalam diri kita…?????
Senantiasa kita melihat amuk dendam, api peperangan, ambisi tirani, mantra-mantra membius dan memabukkan para politisi dan jenderal perang, yang semua itu tidak indah, tidak baik dan tidak sesuai dengan hakekat cinta……
Para jenderal perang selalu dengan lantang mengatakan, “ Atas dasar cinta tanah air, mari kita bunuh musuh kita…!!!!! ”. kaum agamawan juga acapkali mengkhotbahkan, “ Atas dasar kebaikan dan keluhuran agama, mari kita lawan kaum pendosa…!!!!! ”. para politisi juga gemar berorasi, “ Kita berkewajiban menegakkan Negara dan hukum, karena itu siapapun yang menghalangi jalan kita harus dilibas dan dihabisi, darah mereka HALAL……!!!!!!!!!!!”
Bukankan nyawa adalah milik Tuhan…????
Lantas, atas izin siapa manusia boleh menghilangkan nyawa-nyawa yang diberikan Tuhan …????
Atasdasar perintah dan kewenangan siapa kepala-kepala dipenggal, tubuh-tubuh terpanggang, kaki dan tangan teramputasi….????
Apakah semua itu dilakukan untuk cinta, kebaikan dan keluhuran….????
Jika cinta, kebaikan dan keluhuran berarti kita boleh memenggal kepala dan membakar badan, maka ALANGKAH BAIKNYA APABILA TIDAK ADA CINTA, TIDAK ADA KEBAIKAN DAN KELUHURAN.
Mengapa nyawa, pohom dan bangunan megah harus ditumbangkan, dibakar, dihancurkan hanya demi mempertahankan kekuasaan….???????
Bisa jadi kita terlalu repot mendefinisikan tentang cinta, sibuk menghabiskan berlembar-lembar kertas, berliter-liter tinta untuk merangkai keinginan atau dambaan mengenai kehidupan nan indah, yang kemudian kita simpulkan sendiri sebnagai hakekat cinta dan keindahan, keluhuran dan kebaikan….?????
Manusia yang sejak semula sudah akrab dengan kekerasan, setan menipu Adam, pembunuhan antara kedua putra Adam, dan berbagai kekerasan lain yang selalu menyertai perjalanan kehidupan manusia, membuat manusia berkhayal membayangkan keindahan, membayangkan kehidupan tanpa kekerasan, membayangkan kekuatan cinta yang dapat membuat manusia berhati suci seperti malaikat………
Jika agama telah menjadi dogma-dogma, maka do’a-do’a akan kehilangan makna. Jika cinta sudah menjadi rumus-rumus logika, maka kasih sayang akan terpenjara. Jika agamawan sudah menganggap orang lain kotor, maka kesucian hanyalah bahan gurauan. Jika kaum lelaki menganggap wanita adalah tubuh tanpa rasa, maka akal sehat sudah terbekukan. Dan jika kaum perempuan sudah menganggap kaum lelaki adalah mesin, maka kelembutan sudah tak berarti. Jika penguasa menganggap rakyat adalah massa, maka hukum akan selalu diludahi. Jika kaum politisi sudah menilai manusai hanyalah deretan kepala, maka kebenaran hanyalah fatamorgana. Dan jika cinta sudah dianggap barang dagangan, maka dunia sudah berada di ujung kehancuran…..!!!!!!!!!!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar